Qadariyah & Jabariyah

Materi Pembelajaran

Materi

SEKTE-SEKTE BESERTA TOKOH-TOKOH ALIRAN JABARIYAH

Dalam perkembangannya, aliran Jabariyah terbagi menjadi dua golongan yang sangat memiliki perbedaan pemahaman yang cukup signifikan. Satu golongan yang sangat terkesan sangat keras dan fanatic sehingga banyak menumpahkan darah orang lain yang tidak sepaham dengannya. Satu golongan lagi lebih luwes atau tidak kaku dan mudah menerima pendapat golongan lain bahkan terkesan mengkombinasikan paham-paham yang ada saat itu.Adapun sekte-sekte aliran Jabariyah tersebut diantaranya adalah :

  1. Jabariyah Ekstrem

    Doktrin Jabariyah ekstrim adalah segala perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya sendiri. Misalnya, kalau seorang pencuri mencuri, perbuatan mencuri bukanlah terjadi atas kehendaknya sendiri akan tetapi timbul karena qadha dan qadar Allah yang menghendaki demikian. Adapun tokoh dari sekte Jabariyah ekstrem ini diantaranya adalah :

    1. Ja'ad Ibn Dirham

      Ja'ad adalah tokoh utama dalam pemikiran Jabariyah, putra dari Dirham, seorang tuan tanah dari Bani Al-Hakam. Ja'ad diasuh dan dibesarkan dengan seorang Kristen yang suka membicarakan tentang masalah teologi, ia bertempat tinggal di Damaskus.

      Pada mulanya oleh Bani Umayyah Ja'ad Ibn Dirham dipercaya untuk mengajar, namun pemikirannya yang kontroversial membuatnya harus lari ke Kuffag dan meninggalkan tempat tinggalnya akibat ditolak dan diburu oleh Bani Umayyah, lalu ia bertemu Jahm bin Shafwan di Kuffah dan menyebarluaskan kembali pemahaman Jabariyah yang diyakininya, dan Jahm gigih meneruskan ajaran tersebut. Adapun doktrin jaran Ja'ad Ibn Dirham diantaranya sebagai berikut :

      1. Al-Qur'an adalah mahkluk, maksudnya Al-Qur'an itu diciptakan Allah, dan kalau ia diciptakan berarti baru, kalau ia baru berarti bukan kalamullah. Sesuatu yang baru itu tidak dapat disifatkan kepada Alah.
      2. Tuhan tidak bisa disifati dengan sifat-sifat manusia sebagai ciptannya, seperti berbicara, melihat dan mendengar.
      3. Manusia dipaksa (majbur), perbuatan-perbuatan manusia hanya bersifat majazi belaka bukan hakiki, manusia terpaksa melakukan dan menerima apa yang sudah ditentukan Allah dalam segala hal.

      Akhir hayat Ja'ad Ibn Dirham mati dibunuh. Menurut sejarah Beliau disembelih langsung oleh Khalid bin Abdullah al-Qasri, gubernur Irak pada masa pemerintahan Bani Umayyah, pada saat hari Raya Idul Adha. Konon selesai shalat hari Raya Idul Adha, Al-Qasri berkutbah di hadapan kaum muslimin seraya mengatakan:"Wahai sekalian manusia, pulanglah kalian lalu sembelihlah binatang kurban, semoga Allah menerima ibadah kurban kami dan kurban kalian. Saya akan menyembelih Ja'ad bin Dirham, karena dia mengatakan bahwa Allah tidak berbicara kepada Nabi Musa. Maha tinggi Allah, atas apa yang telah dikatak oleh Ja'ad Ibn Dirham. Lalu beliau turun dan menyembelih Ja'ad Ibn Dirham.

    2. Jahm Ibn Shofwan

      Jahm Ibn Shafwan memiliki nama asli Abu Mahrus Jahm bin Shafwan berasal dari Khurasan, bertempat tinggal di Kuffah. Ia juga mendapat gelar Abu Makhroj. Ia adalah seorang pemimpin Bani Rosib dar Azd. Ia lihai berbicara, ahli debat dan seorang orator, karena kelihaiannya dalam berbicara serta kefasihannya, Al-Harits Ibn Sarij al-Tamimi pada waktu berada di Khurasan mengangkatnya sebagai juru tulis dan seorang mubaligh. Akhir hidup Jahm Ibn Shafwan dibunuh dan wafat oleh Muslim Bin Ahwas Al-Mazini di akhir pemerintahan Khalifah Malik bin Marwanh dari Bani Umayyah tahun 131 H. Adapun doktrin-doktrinnya adalah sebagai berikut :

      1. Tidak meyakini akan sifat-sifat Allah, karena jika Allah disifati akan menyamakan dengan mahkluk, Allah tidak sama dengan mabkluk. Namun, hanya mempercayai 1 sifat Allah yakni Allah Maha Kuasa, berkuasa untuk menciptakan dan berbuat.
      2. Ilmu Allah terhadap sesuatu yang telah diciptakan dan belum diciptakan tidaklah sama atau berbeda artinya sesuatu yang belum diciptakan Allah tidak diketahui Allah karena jika sama atau Allah mengetahui sebelum diciptakan dan sesudah diciptakan maka ilmunya berbeda.
      3. Manusia tidak memiliki kemampuan apapun, segala perbuatan atau kejadian yang terjadi adalah wujud kekuasan dan perbuatan Allah.
      4. Penghuni surge ataupun neraka akan kekal di dalamnya, jika ditaqdirkan masuk ke dalam surge maka akan kekal di dalamnya, jika ditaqdirkan masuk neraka maka kekal juga dan tidak ada jalan kembali atau merasakan surge.
      5. Iman adalah ma'rifah, sedangkan kufur adalah al-jahlu. Siapa yang sudah mencapai ma'rifah kepada Allah, lalu mengingkari Allah dengan lisannya maka tidak termasuk kafir namun tetap tergolong mukmin, karena pengetahuan yang berasal dari lisan dan ma'rifat yang berasal dari hati tidak terhapus dengan adanya keingkaran.

  2. Jabariyah Moderat

    Jabariyah moderat berpaham bahwa tuhan memang menciptakan perbuatan manusia, baik perbuatan jahat maupun perbuatan baik, tetapi manusia mempunyai bagian-bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Inilah yag dimaksud dengan kasab. Menurut paham kasab, manusia tidaklah majbur (dipaksa oleh tuhan), tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan tuhan. Adapun tokoh dari sekte Jabariyah Moderat adalah sebagai berikut :

    1. Al-Husain Ibn Muhammad an-Najjar

      Al-Husain Ibn Muhammad an-Najar mencetuskan aliran Al-Najjariyah yang merupakan salah satu bentuk Jabariyah moderat. Pengikut aliran ini disebut An-Najjariyah atau Al-Husainiyah. An-Najjar hidup pada masa khalifah Al-Ma'mun sekitar tahun 198 H sampai 218 H. Pada mulanya ia adalah murid dari seorang Mu'tazilah bernama Basyar al-Marisi. Tapi beliau keluar, mengikuti mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan akhirnya membuat mazhab sendiri yaitu Najjariyah. Beliau ini berusaha mempersatukan di antara faham-faham yang ada. Kadang-kadang fatwanya sama dengan Mu'tazilah, lain kali mirip dengan Jabariyah, lain waktu persis dengan Murji'ah atau Syi'ah bahkan Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Tapi sekarang aliran ini sudah tidak ada lagi, karena tidak adanya pengikut, hilang Bersama waktu. Adapun doktrin ajarannya adalah sebagai berikut :

      1. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peranan dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. Dengan demikian manusia dalam pandangan An-Najjar tidak lagi seperti wayang yang gerakannya bergantung kepada dalang, sebagai tenaga yang diciptakan tuhan dalam diri manusia mempnyai efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
      2. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi, An-Najjar menyatakan bahwa tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma,rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat.
    2. Ad-Dhirar

      Nama lengkapnya adalah Dhirar bin Amr. Doktrin ajaran-ajarannya diantaranya :

      1. Beliau sependapat dengan An-Najjar, yakni bahwa manusia tidak hanya merupakan wayang yang digerakkan dalang. Manusia mempunyai bagian dalam perwujudan perbuatannya dan tidak semata-mata dipaksa dalam melakukan perbuatannya. Menurutnya, suatu perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pelaku secara bersamaan, yakni perbuatan-perbuatan yang diciptakan Tuhan dan perbuatan-perbuatan yang diusahakan oleh manusia. Dengan kata lain, Tuhan dan manusia bekerjasama dalam mewujudkkan perbuatan-perbuatan manusia. Karenanya manusia tidak semata-mata dipaksa dalam perbuatannya.
      2. Tentang melihat Tuhan. Menurutnya Tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera ke-enam.
      3. Hujjah yang dapat diterima setelah nabi adalah ijma' saja. Sedangkan yang bersumber dari hadist ahad dipandang tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum.
      4. Imamah bisa dipegang oleh orang lain selain bangsa Quraisy.

Menu Lainnya